Berita Terbaru - Newsflash
  • Register

Metrotvnews.com - Joko Widodo dinilai sulit ditandingi untuk memenangi Pilpres 2019. Berdasarkan fakta atau survei, calon petahana itu jauh lebih kuat ketimbang pesaingnya, apalagi jika ia didampingi calon wakil presiden yang juga memiliki elektabilitas tinggi.

Jokowi dipastikan akan berkompetisi di Pilpres 2019 setelah resmi diusung lima partai politik dengan kekuatan 52 persen kursi di DPR. Kelima partai itu ialah NasDem, Golkar, PPP, Hanura, dan terakhir PDIP. Dia juga didukung partai baru, PSI dan Perindo. Partai-partai lain pun mungkin juga akan merapat.

Ketua DPR Bambang Soesatyo meyakini Jokowi akan kembali terpilih menjadi presiden. "Tak ada lagi yang bisa menandingi Jokowi pada Pilpres 2019 kalau berdasarkan fakta-fakta atau riset-riset survei yang ada. Kami memprediksi presiden 2019 tetap Jokowi," ujarnya di Gedung DPR, Senin, 26 Februari 2018.

Hasil survei seluruh lembaga survei memang menempatkan elektabilitas Jokowi di posisi teratas. Tingkat kepuasan rakyat terhadap kinerja Jokowi dalam memimpin bangsa juga sangat signifikan.

Karena itu, sulit bagi siapa pun membendung langkah Jokowi, terlebih kalau cawapresnya juga punya tingkat keterpilihan tinggi. Kriteria seperti itu, kata Bambang, ada dalam diri Wapres Jusuf Kalla, tapi Kalla sudah dua kali menjabat sehingga tak bisa lagi mencalonkan.

Bambang mengingatkan, cawapres yang dipilih nanti jangan malah menjadi beban Jokowi. "Kami melihat Pak Jokowi sekarang ini butuh cawapres yang bisa menambah elektoral dia ke atas. Jadi, harus ada nilai tambahnya, bukan malah jadi beban."

Sekjen Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus mengatakan pihaknya belum mengusulkan nama cawapres dan akan menyerahkan sepenuhnya penentuan figur itu ke Jokowi. Ia yakin, siapa pun yang dipilih nanti tak akan mereduksi peluang Jokowi.

"Dengan elektabilitas tinggi seperti sekarang, Pak Jokowi bisa mengambil cawapres dari mana saja dan saya yakin bisa menang. Jadi, kami tidak khawatir," tutur Lodewijk.

Menurut Jusuf Kalla, setidaknya ada dua kriteria penting bagi cawapres untuk dipasangkan dengan Jokowi. "Pertama, harus bisa menambah elektabilitas, tidak mengikuti elektabilitasnya Pak Jokowi, harus menambah konstituen, harus dikenal, harus baik, harus ada pemilihnya," katanya seusai memberikan arahan dalam Rapimnas Institut Lembang 9 di Jakarta, Senin.

Kedua, ucap Kalla, harus memiliki ketokohan dan kepemimpinan sehingga bisa menjadi presiden bila diperlukan. "Dari enam presiden kita, dua wakil menjadi presiden, Bu Mega dengan Pak Habibie. Artinya tokoh itu harus matang karena kalau tidak, pengalaman Pak Habibie dan Ibu Mega, kalau tidak siap, bagaimana?"

Senada, Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah mengatakan salah kriteria pokok cawapres ialah kemampuan dalam meningkatkan elektoral Jokowi. PDIP belum menentukan calon yang tepat.

Gerindra solid

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menegaskan partainya tetap solid untuk mencalonkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai capres. Ia menanggapi dingin usul agar Prabowo dipasangkan menjadi cawapres Jokowi.

"Kemungkinan itu (Jokowi-Prabowo) kecil sekali, bahkan mustahil ya. Sejauh ini, hampir 100 persen kader Gerindra menginginkan Pak Prabowo sebagai calon presiden," tandas Fadli. Ia menambahkan, pihaknya terus membangun komunikasi politik dengan sejumlah partai seperti PKS dan PAN untuk mengusung calon di Pilpres 2019.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf mengatakan Demokrat akan menentukan capres yang diusung pada rapimnas 10-11 Maret nanti. "Partai Demokrat turut mengundang Jokowi sebagai Presiden RI dalam rapat itu," terangnya.